Siasat Baru Hadapi Covid-19 Yang Enggan Berlalu

  • Whatsapp

“Badai pasti berlalu”. Begitulah sebuah kutipan yang memiliki kekuatan makna dengan tujuan untuk menguatkan suatu usaha melewati rintangan berat. Mendoktrin pemikiran dan memberikan keyakinan bahwa semua akan ada akhirnya. Lalu apa yang terjadi jika diperkirakan si Badai ini tidak juga berlalu? Apakah kita harus berdamai dengan si Badai?

Sudah berbulan lamanya, Negara kita dan juga dunia terus berjuang melawan Corona dengan berbagai cara dan upaya. Mungkin caranya sudah betul, upayanya sudah benar tapi hasilnya tidak maksimal. Kenapa? Bisa jadi karena cara dan upaya yang ada hanya sebatas teori atau wacana di atas kertas yang dibungkus aturan tanpa disertai ketaatan. Aturan hanya sekedar himbauan, bukan kewajiban yang harus dijalankan. Inilah awal mula ketidakpastian, hingga semua ini belum ada akhirnya.

Pemerintah terus bekerja keras untuk melawan virus ini. Berusaha menemukan strategi jitu supaya virus ini bisa melandai dan berlalu, tetapi yang ada malah tidak kunjung usai. Konsep perlawanan memutus mata rantai penyebaran pun sudah dikumandangkan. Perintah menyiapkan rumah isolasi, himbauan untuk isolasi mandiri, aturan menerapkan pembatasan sosial, ajakan untuk tetap di rumah, gerakan untuk memberikan berbagai bantuan pangan dan uang. Namun pada akhirnya, bendera putih pun dikibarkan sebagai tanda bentuk ketidakmampuan kita melawan sang wabah yang tak kunjung kalah.

Sudah waktunya untuk berdamai? Kalau terus kita lawan dengan konsep seperti sekarang maka, bahaya kehancuran ekonomi akan semakin mengancam hingga bisa merubah tatanan kehidupan. Dan kita dihadapkan pada dua pilihan, mati karena korona atau mati karena kelaparan.

“Berdamai bukan berarti kalah tapi berdampingan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Fokus kita saat ini adalah bagaimana masyarakat bisa tetap produktif dan tetap bisa bertahan dengan adanya Covid-19.” Inilah pidato Presiden RI tentang strategi baru yang nanti akan digunakan sebagai solusi terbaik saat ini yang bisa diterapkan. Kehancuran ekonomi sudah mulai mengancam negeri ini. Jangan sampai kita fokus melawan musuh di depan tapi datang musuh dari belakang yang jauh lebih mengancam.

Lalu, bagaimana strategi berdamai ini dilakukan? Yang pasti, yang harus dilakukan adalah memulai bekerja untuk mengaktifkan roda perekonomian. Cari rejeki, jangan berdiam diri. Nafkahi keluarga dan juga diri sendiri. Tidak ada lagi pembatasan yang bisa melemahkan pendapatan. Yang ada adalah aturan “Tatanan Baru” yang harus kita lakukan untuk bisa tetap produktif tapi juga tetap berdamai dengan Covid. Kenali dan pahami bagaimana cara supaya tidak terpapar. Ikuti aturan main supaya kita bisa tetap terhindar. Disiplin diri adalah kunci agar pandemi ini bisa diakhiri.

Sedari awal, sejatinya permasalahan virus ini menyebar adalah tidak adanya kesadaran diri sendiri untuk tidak terpapar atau memapari. Ini terjadi karena semua bebas dengan egonya sendiri-sendiri. Kini, semua dikembalikan ke hukum alam. Kita lemah, kita yang terancam. Kita kuat, kita yang akan bertahan. Nasib kita adalah ditangan kita sendiri.

Badai tidak akan berlalu. Namun kitalah yang akan pergi sekuat tenaga melaluinya. Bukan sekedar hanya diam sambil menunggu badai ini hilang. Karena, katanya, badai ini tidak akan bisa hilang.

Mampu atau tidak kita melaluinya. Sanggup atau kuatkah kita melewatinya adalah tergantung cara kita dalam menghadapi era baru hidup ini. Era bergaya hidup baru yang penuh dengan “Tatanan Baru”. ***

Penulis : Priyo Martono
Certified Public Speaker’s | Trainer | Founder & CEO Red Angels Kampung Tumo | Coach Priyo CPS.

Editor : Kuzaini

Pos terkait