Serikat Petani Tuban Duga Ada Pelanggaran Terkait Program Ketahanan Pangan

oleh

LintasBojonegoro.com – Berdasarkan kebijakan Pemerintah yang memiliki program peningkatan produktifitas tanaman pangan, sebagaiamana Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2015, Serikat Petani Tuban menduga hal ini terindikasi sulit tercapai, karena berbagai faktor.

Ketua serikat petani Tuban Arifin mengatakan jika melihat beberapa waktu lalu bahwa Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tuban, Murtadji, mengungkapkan bahwa padi di Tuban itu didominasi oleh padi Ciherang dengan hasil 7-8 ton per hektar.

Khususnya di Kecamatan Soko, Tuban, Jawa Timur, yang beberapa saat lalu menjadi simbolis panen raya Petani yang dihadiri oleh Menteri Pertanian yang diwakili oleh Direktur Jenderal Tanaman Pangan Sumardjo Gatot Irianto, Yang mana Soko diperkirakan akan melakukan puncak panen dibulan Maret mendatang sebanyak 22.000 hektar.

banner

” Tuban diprediksi surplus beras dan tidak kekurangan beras pada tahun ini.
Namun faktanya petani saat ini terancam Penurunan panen karena berbagai faktor,” Terangnya.

Adapun faktor faktor penyebab gagalnya panen tersebut diantaranya dikarenakan,
Penyaluran benih tidak tepat waktu sejingga menimbulkan berbagai dampak, yaitu :

Pertama adalah kesempatan untuk penyelewengan Para petani tidak mengunakan benih unggul
Alsintan( Alat Mesin Pertanian ) tidak digunakan sebagimana mestinya karena mesin diesel tidak ada. ” Dampaknya adalah pengelolaan lahan tidak efisien atau biaya pengeluaran lebih tinggi,” Ujarnya.

Menurutnya terindikasi pula ada Temuan tindak pidana dan perbuatan melawan hukum sebagaimana hasil wawancara dari anggota Serikat Petani Tuban ( SPT )

Melihat temuan tersebut serikat petani Tuban menyatakan sikap diantaranya :

1. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan penyaluran bantuan benih dan alsintan oleh dinas pertanian ( SPT ).

2. Pemerintah membuat aturan yang menjamin bantuan diterima oleh petani (SPT)

3. Mengecam keras dugaan benih bantuan bersubsidi oleh oknum Gapoktan di Desa Mojoagung Kecamatan Soko, yang seharusnya benih padi bersertifikat dibagi kepada petani tetapi di proses menjadi beras.

Karena hal itu merupakan pelecehan terhadap profesi pemulia benih dan penangkar benih yang sudah susah payah melakukan budidaya, serta juga merugikan banyak petani dan termasuk perampasan Hak yang semestinya sampai pada sasaran namun disalahgunakan.

banner