Saat Istirahat Para Pejabat di Kecamatan Tambakrejo

oleh

Oleh Eko Purnomo

Lintasbojonegoro.com

KU mau yang KU tahu, setaraf pejabat tingkat kecamatan mungkin baru kali ini , rabo (5-9-2018) terekspose perihal non formal disaat waktu istirahat lepas lelah melaksanakan tugas.

banner

Kecamatan tambakrejo dengan kewenangan melayani desa kewilayahan 18 desa, semua pegawai kecamatan ber-KTP islam, terkenal guyup rukun sinergy. Identik sesama anak buah camat , dan sekcam tidak ada yang berbantahan saat melaksanakan tugas memberikan pelayanan pada masyarakat. Ada camat tidak ada camat, melaksanakan tugas tidak ada ogak ogahan. Prinsipnya, kata pak Bianto, S. Sos.(Kasi PMD), senadjan pak camat umpamane tidak tahu, lha Gusti Allah, SWT. Maha tahu, maka tugas yaa tugas dilaksanakan dengan ikhlas.
Sedangkan kasi trantib Suryantoro, SH. Ambil wudlunya gantian, athuk man bareng pak parman PLKB sholat nok masjid,

Kemarin listrik di Tambakrejo wafat dan almarhum hingga jam kantor tutup, ironisnya listrik padam signal hp ikut pingsan megap megap. Sampai sampai kasun Kacangan menghubungi kasi pem kec.tambakrejo H. Maskur, S.sos.MM. pinjam hp nya wartawan lintasbojonegoro. “Lha kog nomore mas eko wartawan “, tanya pak Haji Maskhur.

“Inggih pak, mriki listrik padam, signal mendrib-mendrib”, jawan kasun.

Ketika antri berwudlu di padasan mbah jan, tempat istirahat dan bercengkrama pada pejabat kecamatan, memang walau ada minuman didepan belum ada yang elus elus atau membuka minum, alias masih podho mengos, termasuk sekcam Zenny, STTP. Juga kades kacangan Azis bertopi, juga kandar, awak media pun juga belum berani tanduk/imbuh nasi makan,siang.

Guyup rukun seperti ini, layak untuk ditiru, dikantor bisa menyesuaikan tupoksi dan sesuai struktural, namun diluar kantor, imbuh nasi dirumah mbah Jan tidak harus menunggu pak sekcam imbuh dulu, tetapi siapa yang ingin ambil dan memilih lauk tergantung yaa siapa yang mau duluan. Ibarat melaksanakan tugas sama sama tahu tugas dan kewajibane, saat makan juga sama sama merasakan pedes asin gurih dan kadang ada yang njenthok laos dikiro empal daging. Bahkan kadang wedang kopi gantian nyruput jika ada yang tidak mau nunggu lama antrian dibuatkan istrinya mbah jan.

“Pegawai disini rukun rukun, tidak ada ibaratnya terkotak kotak, terlalu alim ya tidak, pokok e kadung bercanda, biyuh biyuh kadang yaa koyo wong geger, sebelum buyar untuk kembali masuk kantor, pasti soooyak, wes wayahe, tinimbang ditimbali ndoro sisten. Lha kuwi kasmin diutus nggolek-i, palingo”. Kata mbah jan**(Ek/Red).

banner