Pertanyakan Data Dawis, RTIK Bojonegoro Soroti Perusahaan Big Data Analytics

oleh
Penginputan Data Dawis Oleh Ibu PKK dan Kader PKK Desa Sekabupaten Bojonegoro

LintasBojonegoro.com – Aktivis Relawan TIK Bojonegoro Mohamad Muat mempertanyakan keberadaan dan keamanan Data Dasa Wisma (Dawis) yang di bawa oleh sebuah perusahaan Big Data Analytics dari Jakarta. Pasalnya, data yang di kerjakan secara berbulan-bulan oleh ibu-ibu pengurus PKK di seluruh desa dan kelurahan di Kabupaten Bojonegoro itu ternyata tidak diketahui keberadaannya.

“Kami punya ke khawatiran data seluruh penduduk Bojonegoro tersebut disalahgunakan untuk kepentingan tertentu. Karena tidak tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas keamanan data tersebut”, kata Moham Muat saat diskusi pemanfaatan data digital di era 4.0.

Menurut Muat, Data Dawis dikerjakan oleh ibu-ibu PKK dan kader PKK pada tahun 2016 setelah mendapat perintah dari Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro.

banner

Pemkab Bojonegoro waktu itu sedang mengembangkan sistem pendataan Data Dawis tetapi belum sempurna. Karena terlalu banyak kolom yang harus diisi. Mulai dari Nomor induk kependudukan, Nama kepala keluarga, Anggota keluarga, Pendidikan, Pekerjaan, Pendapatan, hingga jenis tanaman yang ada di pekarangan rumah.

“Saking rumitnya pengisian Data Dawis akhirnya pengerjaan Data Dawis memakan waktu sampai sekarang. Karena setiap kolom yang tersedia harus diisi secara detail”, ungkapnya.

Selain itu, setiap desa dan kelurahan di Kabupaten Bojonegoro terpaksa harus mengeluarkan biaya cukup besar yakni antara Rp 20 juta hingga Rp 30 juta untuk pendataan Data Dawis.

Setelah data tersebut berhasil dikerjakan oleh ibu-ibu PKK dan kader PKK di setiap desa dan kelurahan, kemudian diserahkan ke PKK Kabupaten melalui PKK Kecamatan. Namun, ironisnya, sistem yang disediakan Pemkab Bojonegoro masih banyak kekuranganya dan pada ahrinya mendapatkan bantuan tenaga dan sistem dari perusahaan swasta di bidang Big Data.

Akan tetapi setelah sebagian Data Dawis masuk ke sistem tidak ada kabar apapun mengenai kelanjutan data yang sudah di ambil tersebut.

“Kami pernah menanyakan proses pengelolaan Data Dawis oleh perusahaan Big Data beserta sistem penyimpanannya kepada instansi terkait. Namun pejabat di instansi tersebut mengatakan tidak tahu”, ungkap Mohamad Muat.

Sementara itu Ketua Relawan TIK Bojonegoro, Rifaun Naim, menambahkan, sebagian data penduduk Kabupaten Bojonegoro yang dibawa perusahaan Big Data Analytics dari Jakarta seharusnya diserahkan kepada Pemkab Bojonegoro, untuk selanjutnya disimpan di server milik Pemkab Bojonegoro. Dengan demikian ada jaminan keamanan data pendudukan dan ada yang bertanggungjawab atas keamanan data tersebut.

“Kalau seluruh datanya dibawa pihak lain dan Pemkab Bojonegoro tidak mengetahuinya, tentu wajar jika menimbulkan kekhawatiran dan keresahan bagi warga masyarakat Bojonegoro sendiri”, tutur Rifaun Naim. (Zen)

banner