Notaris Reza dituntut 10 Bulan Penjara, Korban Berharap Ada Keadilan

oleh

Lintasbojonegoro.com — Sidang kasus Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) antara pasangan suami isteri notaris Reza Perveez Kalia & Vedhasari Puspita., SH.,M.M.,MKn. kembali digelar pada rabu (21/08/2019) pukul 14.00 wib di ruang sidang Kartika Pengadilan Negeri Bojonegoro dengan agenda pembelaan terdakwa (Pledoi).

Pada sidang sebelumnya, rabu 14 Agustus 2019, dengan agenda sidang pembacaan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suhardono, terdakwa dituntut 10 bulan penjara dan denda Rp. 8 juta subsider 5 bulan kurungan.

banner

Terdakwa dinilai terbukti melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap korban Vedhasari Puspita yang mengakibatkan korban mengalami luka, sehingga harus dirawat di rumah sakit dan tidak dapat melakukan pekerjaan selama kurang lebih satu bulan.

Reza didakwa melanggar pasal 44 ayat 1 dan 2 undang undang nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga.

Sidang yang di pimpin langsung oleh Ketua PN Khadarisman Al Riskandar, S,H.,M,H. Dengan hakim 1 Eka Prasetya Budi Dharma.S,H..M,H. Hakim 2 Isdaryanto.S,h.M,H,. dan Panitera pengganti Kiswadi S.h. itu bakal digelar rabu minggu depan dengan agenda tanggapan dari JPU.

Sementara itu, pihak korban Vedhasari Puspita, menyayangkan atas tuntutan JPU yang dinilai masih ringan dan jauh dari harapan.

Ibu dari anak – anak terdakwa Reza tersebut berharap, majelis hakim memberikan putusan seadil-adilnya terhadap kasus ini. Agar tidak ada lagi kekerasan serupa terhadap wanita lemah seperti dirinya.

Ia bercerita, saat mendaptkan perlakuan KDRT oleh bapak dari anak – anaknya sendiri, dan selama proses persidangan, terus menerima tekanan. Tidak hanya fisik, namun juga mental, sehingga ia harus dirawat dan tidak bisa bekerja selama kurang lebih satu bulan.

” Mohon majelis hakim memperhatikan perempuan seperti saya ini, luka yang saya alami dan berbagai macam tekanan sungguh sangat berat. Saya berharap tidak ada lagi perempuan lemah bernasib seperti saya,” Harapnya.

Ia melanjutkan banyak sms/ WhatsApp dari nomor yang tidak diketahui dengan nada ancaman, dan yang paling parah adalah percobaan pembakaran terhadap mobil pribadi miliknya yang dilakukan oleh orang tidak dikenal. Pihaknya juga telah mengadukan hal itu ke polisi.

” Sudah saya laporkan ke polisi untuk kasus itu, dari proses penyelidikan sepertinya pak Reza juga dimintai keterangan oleh penyidik.”Jelasnya.

Dalam pembelaanya, terdakwa melalui kuasa hukumnya Adi S. Menyampaikan, tuntutan dari JPU dinilai tidak sesuai dengan fakta di persidangan. Menurutnya korban tidak terbukti mengalami luka berat.

” Fakta persidangan tidak ada luka berat itu, hanya lebam ditangan karena genggaman, dan tidak menghalangi korban untuk melakukan pekerjaannya,”Ujar Adi.

Dalam pledoinya ia berharap kepada majelis hakim memberikan vonis seringan – ringanya, atau bebas kepada klienya.