Konon Banyak Hantu di Sungapan Sungai Bengawan Solo

oleh

Oleh : Eko Purnomo

Lintasbojonegoro.com – Bercerita Hantu di sepanjang bengawan solo, memang tidak ada habisnya. Karena pengalaman penulis untuk urusan mistis bisa dikatakan banyak. Sehingga sayang jika tidak disusun dalam narasi cerita misteri di lintasbojonegoro.com

Termasuk desa tempat tinggalku (Penulis) desa Ngulanan Kecamatan Dander memang termasuk aliran sungai bengawan solo. Dan menurut warga konon memang sungai Bengawan solo banyak setanya.

banner

Rentetan kejadian di sungai Bengawan solo juga menambah sisi keangkeran yang dirasakan oleh warga setempat.

Misal pladu ikan, mayat terapung, prahu kerem, orang kalap/tenggelam, orang bunuh diri melompat kedung, termasuk orang mencuci brabehan/jerohan lalu tenggelam, orang pencari ikan yang mati diatas perahu, orang nyetrum ikan dikejar ikan di sungapan, orang mencari jangkrik temeni genderuwo, dan lain lain.

Berikut kisah hantu di sungapan. Dalam kisah lagu Bengawan solo ciptaan mbah Gesang. “Air mengalir sampai jauuuh akhirnya ke lauut”.

Air air tadi, selain, dari hulunya yakni waduk Gajah Mungkur, air juga berasal dari anak – anak sungai, dan tempat bertemunya air sungai dengan masuknya ke aliran bengawan solo itulah, tempatnya disebut SUNGAPAN. Dan jika air kali ketemu air kali lalu sama – sama mengalir ke aliran bengawan atau danau atau laut itu namanya air Kali Tempur. Fahaaam?, terima kasih.

Di sungapan itu menurut para ahli tirakat, konon banyak Demit bermukim, bahkan ad ayang menyebut mall plazanya demit dan tempat transaksi di sungapan. Oleh karena itu bila bekal belum cukup, jangan coba coba menyepelekan, demit itu peka dan mudah tersinggung.

Ini ada cerita baru baru ini pada tahun (2017), sebutnya namanya Ahing, seorang pencari ikan dengan alat tangkapanya yakni setrum. Awalnya hingga sepuluh hari mencari ikan, setiap pagi dijualnya ikan dari, setruman itu hingga mendapat uang mendekati angka 600-700 ribu perhari.

Ikannya dari,Sungapan,sungai batas desa Ngulanan-desa ngablak ,tepatnya belakangnya rumah mbah kyai Sarwi.
Dari hasil yang memuaskan itu, niat tamak muncul, “ngene kog gak kawit biyen (begini kog tidak,sejak dulu) setahun bisa beli dump truck 2 kendaraan.” Kata Ahing.

Dan kemungkinan Ahing tanpa hari pantangan yakni malam jumat kliwon, sepulang tahlilan berangkatlah dengan berjuta harapan, padang rembulan. Termasuk uluk salam terlupakan tiada terucap karena rangkepan kaos belum diikatkan ke kepala seperti kostum ala ninja ,iwak sudah slemiweran, “byiuuuur”, treeeeet…treet..tet..tret. Bunyi setrumnya.

Tak seberapa lama tampak ada, segrombolan ikan yang terlihat dari lampu sorot yang dijidatnya ala astronot itu. Lhaa Ahing dibuat kaget dibelakangnya ada suara “Gejooobag”, Ahing menoleh ke belakang, tahu tahu ada ikan mengejar dirinya, ahing berupaya lari, hingga kepis tempat ikannya jatuh.;pyoook”, tolong tolong tolong tolong, menurutnya begitu, tetapi seperti tetangga pinggir kali tidak ada satupun yang mendengarnya. Setelah sampai di darat/entasan, ada suara tanpa rupa, mengumpatnya, “menungsa ra sopan. Anakku akan melahirkan kog dulur dulurnya disetrum”. Cerita Ahing.

Pengalaman malam jumat kliwon itu, hari terakhirnya Ahing nyetrum ikan. ” yang saya setrum wujudnya ikan, tapi suara itu mengatakan saudaranya, berarti demit bisa berubah rubah bentuk, tibak -e”.Pungkas Ahing. (EK/Red).

banner