Kisah Hantu Utara Gunung Pandan

oleh

Oleh : Eko Purnomo

Lintasbojonegoro.com – Andalkan Fisik dan kecerdasan bila tanpa ditambahi nilai Taqwa, jangan sekali-kali berani bersikap sombong dimana pun berada. Apalagi saat melewati jalan sepanjang dari dusun sukun Desa sambong hingga tugu monasnya Desa klino Kecamatan sekar Kabupaten Bojonegoro.

Banyak sekali pos pos tempatnya para jin priprayangan berbagai ukuran dan macam – macam bentuknya.

banner

Cerita punya cerita, penulis online Lintasbojonegoro.com, sekitar tahun 1997 tergolong masih berani. Naik sepeda motor sendiri ke rumah mbah H.suwito SPd. Krondonan – Gondang sekarang (2018) beliau masih menjadi anggota DPRD Komisi B, fraksi PAN.

Sering pulang dari krondonan kadang usai acara dunia dalam berita baru pamit pulang ke bojonegoro, yang berjarak sekitar 64 km. dengan medan jalan berkelok kelok naik turun gunung, kondisi hutan jati lebat, ketika belum ada kejadian penebangan Kayu Bebas, singkatannya bikin sendirilah, ibaratnya saya (penulis), terbiasa.

Nyali saya sempat berkurang, agak was-was saat saya menjadi sopir mbah wito (sapaan akrabnya). Saat itu dalam mobil bliau bercerita, seraya berpesan, ” Mas eko, kalau lewat sini (jalur kelok huruf SS), hati hati yaa tidak usah tengok belakang. Disini jalan terjal, berbatu dan ada demit, kondisi hanya Gembung tanpa kepala. Sering mengejar orang, sambil meminta tolong, ‘ heeey wooong, tolongi aku’, ” Kata Mbah Wito.

“Aaah yang benar mbah, meden medeni saya mbah, ki rumahku jauh. Apalagi selesai ngantar panjenengan khan saya lewat sini lagi mbah,”jawabku.

Kita sempat mampir bersilaturahmi sekaligus ngantar oleh oleh ke mbah sokran dusun kadung desa sambong, karena keesokan harinya mbah, sokran ikut pilkades.

Sampailah dirumah mbah wito, sekitar pukul 22.30.Wib. Mbah wito menyarakan agar dirumahnya, pulang pagi hari, tapi berhubung tadi pada istri dan anak saya tidak pamit kalau nginep, penasaran pikir hampir setengah jam, dan mbah wito ngomong “segera tidur, besuk pagi pulang”

Lalu saya menghubungi istri via telphon dan bercerita sedang dirumah mbah wito, saya tidak pulang, ternyata jalan menuju rumah mbah wito banyak Demit. Lalu sang nenekku, maaf, beliau sebelum wafat diusia 106 tahun, kondisi tua renta tapi rajin dzikir (Itu kata istriku). Beliau menyarankan, kalau pulang insya Allah, selamat tidak apa apa. Kalau ragu ragu dan capek, istirahat, tapi saat subuh bangun dan,sholat, tapi pamit/ijin permisi pada yang punya rumah. ” Ojo glodagan nok omahe wong.”

Akhirnya keputusan ,istirahat dan pulang pagi. Sebelum sampai gondang, istirahat minum susu di warung samping wisata Buton (bukit Tono), nok warunge mbak Tam.

Lha dari situlah membludaknya cerita tentang Horor sepanjang jalan dari jalan tanjakan/menurun selatan buton, konon ada bekas kuburan massal korban 65, dan lain lain. Termasuk lokasi yang satu batunya diambil untuk prasasti aloon aloon oleh Bupati kang Yoto, dinamai watu SEMAR. Ada jembatan uwong ayu bandotan.

Ternyata oh ternyata itulah sedikit yang membuat kurang nyali, lantaran anak anaknya butuh biaya, kita lalai bisa terjungkel, padahal dulu ketika Bojonegoro belum banyak yang punya mobil alias sopir sedikit. Saya sering menggantikan mengikuti mobil Sat-IPP Polres Bojonegoro, saat akan diadakan rekontruksi, saat kasat, IPP masih IPTU Musjari.”mas eko,wartawan saja sopirnya, spesialis medan berbatu tetep nyaman setirannya, halus dan tidak ada kosronya.”

Ternyata, dari cerita mbah wito DPRD dapil IV, betul betul jadi viral. Hingga lintasbojonegoro.com , jikalau tidak ada cerita horornya pada japri penulis bagi yang punya nomornya penulis. Sampai sampai satu cerita tercatat ada 8.217 pembaca dalam 2 hari. Bikin,anaknya penulis mennyarankan, ” Bapak, jangan menyinggung setan, ntar bagaimana “, tanya Zulfikar.

Nggak papa mas, bapak tidak bermaksud menyakiti perasaan, justru orang agar tahu, kalau sudah tahu sama sama tahu diri. Dan kalau mungkin pipis dibawah pohon tahu, kadang, ada khan, orang kebelet pipis, mbah,amit mbah minggir anam numpang pipis”

(Bersambung, cerita horor yang lainnya)**(Ek/Red).

Foto : Ilustrasi

banner