Kesakralane Punden Mbah Sinare di Desa Sumbangtimun

oleh -577 views

Reporter Eko Purnomo

Lintasbojonegoro.com — TAK sengaja kamis sore, reporter lintasbojonegoro.com (ekopurnomo), kemarin (7/3/2019) sedang pantau kawasan bantaran bengawan solo, adanya banjir, tetapi setelah saat usei waktu ashar, banyak orang berduyun-duyun, membawa tumpeng. Ternyata arah tumpeng tersebut ke sebuah cungkup Sumbangtimun.

Rasa penasaran penulis semakin membara karena yang sedang melaksanakan hari raya nyepi mayoritas di pulau Bali, lha di desa sumbang timun banyak orang bawa tumpeng ke sebuah cungkup. Alhasil keesokan hari (jumat 8/9/2019), mendapat jawaban komplit,setelah,bertemu beberapa nara sumber. Diantaranya, sang Juru kunci Mbah Sumarsi (modin sumbangtimun), memang mbah marsi, sapaan akrab modin,sukses lahir batin ini, tidak banyak cerita dan tidak suka omongan, intinya siapa yang datang ditanya hajatnya, lalu mbah marsi menyampaikan hajatnya, seraya umik-umik, lalu tumpeng didoain lalu dibagi. “Tergantung hajat mereka datang kesini apa, terserah. Purbawasisane ya para peziarah, yang penting kalau sudah di rest,area cungkup, mulai bicara, sikap harus sopan dan santun. Alhamdulillah, jikalau mereka tidak terlabul mungkin tidak sampai bertahun tahun kesini tiap hari jumat pahing dan bancaan”.

banner

Selanjutnya menurut kades sumbangtimun , Nikmah, didampingi sekdes eko heinanto, dijelaskan bahwa sakralnya makam Sinare mbah Joyo seputro, adalah mulai dari rikolo bendu hingga milineal sekarang ini . Kebetulan seusei kami, bahwa mbah modin marsi menjadi juru kunci sejak remaja, yakni sejak modin sumbantimun dijabat oleh ayahandanya yang bernama mbah modin Nawawi yang juga jadi juru kunci sebelum mbah Marsi. “Soal sakralnya…waaah, tidak bisa diceritakan yang tahu ya cuma mbah modin. Iyaa..kalau danyang kasat mata (nyata Kami, kades), tapi ada orang sini pernah menyepelekan akan punya hajat tidak sowan (kirim doa), tahu tahu angin hujan petir ora kaprah. Peziarah bukan khusus dari desa sini dan,sekitarnya, tapi dari berbagai penjuru., tandas kades penuh ramah.

Sekdes Sumbangtimun, Eko heinanto, menambahkan , pokok e iku tanya langsung nok mbah mboten, ki raenek kaitane karo tugas dino iki, ok.

Menurut peziarah, sebut saja SR, memang semenjak mendengar adanya sakral disini, untuk restu penjualan Soto (kuliner), top markotop, 14 tahun sobo sini. Tolong jangan sebut rumahku dan namaku.

Lain lagi cerita dari pengusaha jamur tiram yang punya dederan 3500 pot, lupa tiga bulan tidak ziaroh. Jamur yang,sekiranya bisa dipanen kurun waktu sebulan, ternyata 2 bulan tidak tumbuh.”karepe kulo e mbek menowo enggal saget dipanen tanpo,sowan mriki, dilalah malah dikerubuti mimik (serangga kecil)’.

Selanjutnya,,Sutrisno (oknum Wartawan), juga bancaan,syukuran di bumi leluhurnya, atas kesembutan penyakit yang,diderita selama 4 bulan.”pokok e, butuhe waras sehat,selain berdoa sendiri seusei sholat”.

“Pokok e mulai kamis sore hingga jam 11 hari jum at pahing, mbah modin full melayani peziarah. Soal bisarohe seiklasnya. Mbah modin grapyak semanak yo pinter ngaji, pinter ndongani ambeng yo pinter nyanyi, senengane lagu ne pak rhoma irama, judule Boleh Saja”, kenang pensiunan kasi kesra Darim, SH.MSi.###(ekopurnomo)