Fenomena Politainment di Pilkada Bojonegoro

oleh

Oleh : Piping Dian Permadi

Memasuki Minggu terakhir jelang hari H Pilkada Serentak Kabupaten Bojonegoro, ramai pembicaraan mengenai cara kampanye yang digunakan oleh pasangan calon bupati dan wakil bupati Bojonegoro pada kampanye Akbar sebelum hari pencoblosan.

Perhatian masyarakat lebih tertuju pada acara apa, dan siapa bintang tamu yang akan hadir pada kampanye tersebut. Bukan lagi pada urusan visi misi, maupun program dari setiap Paslon.

banner

Sepertinya minat masyarakat pada industri hiburan dan seni lebih tinggi ketimbang pada urusan politik dan pemerintahan.

Sisi entertainment yang menghibur lebih disenangi masyarakat daripada pidato rentetan janji Paslon yang belum tentu terwujud pada nantinya.

Startegi untuk menarik hati masyarakat melalui sisi entertainment tersebut, dimanfaatkan baik oleh Paslon nomor urut 2 Mahfudhoh Suyoto dan Kuswiyanto (MK). Nissa Sabyan menjadi pilihan pasangan MK untuk menarik simpati masyarakat pada proses kampanye Akbar.

Nuansa entertainment memang cukup kental pada paslon yang didukung oleh mantan Bupati Bojonegoro Drs. H. Suyoto Msi tersebut.

Jargon ” kalau dapat mencintai, kenapa harus membenci ” seolah menjawab kritikan pedas dari masyarakat kepada sang mantan bupati.

Kritik dari masyarakat seolah hendak dijawab menggunakan jargon yang mudah diucapkan, bukan menggunakan data atau pun program.

MK berusaha mengawinkan antara proses politik dan entertainment menjadi satu guna meraih suara pemilih. Apa ini yang disebut Politainment?

Meski terkesan main – main, Politainment adalah subjek yang banyak diteliti oleh ilmuan sosial terutama dalam bidang politik dan komunikasi.

Justus Nieland memaknai Politainment sebagai percampuran antara industri politik dan hiburan. Kait klinden antara aktor, topik, dan proses politik dengan budaya hiburan media.

Sekilas Politaiment sangat menguntungkan bagi semua pihak, bagi industri media konten politik menjadi komoditas yang bisa mendatangkan profit.

Sementara bagi politisi, Politainment mberikan ruang tampil dan memungkinkan perkembangan strategi komunikasi dalam menjangkau calon pemilih.

Penonton pun diuntungkan karena politik tidak lagi menjadi masalah serius yang membosankan. Karena telah diolah dalam drama dan kejutan yang menghibur.

Seperti yang ramai diperbincangkan minggu ini, yaitu paslon nomor urut 1 Soehadi Moeljono dan Hj. Mitroatin S.Pd yang mendatangkan mantan pemain Persibo (Bojonegoro All Star) dan Persela All star pada momentum kampanye Akbar.

Masyarakat Bojonegoro khususnya pecinta bola cukup antusias dengan cara kampanye Paslon tersebut. Lebih dari sepekan pembicaraan mengenai Persibo di media sosial tak kunjung berhenti.

Pro dan kontra masyarakat bergulir deras bak bola panas yang sengaja dilesatkan untuk mengambil alih trending topik media sosial mengalahkan kedatangan Nissa Sabyan.

Tidak mengherankan, Persibo merupakan komoditas olahraga dan hiburan yang cukup populer bagi masyarakat Bojonegoro terutama bagi anak muda.

Tidak kalah cerdik dari Paslon MK, Pasangan Mulyoatine pun ikut berlomba memperbutkan hati masyarakat dengan cara – cara entertainment.

Hal itu terlihat dari beberapa kali relawan muda Mulyoatine gemar menggunakan aplikasi video yang lagi trend bersama calon wakil bupati Mitroatin.

Semua itu dilakukan untuk menciptakan citra sang politisi di mata masyarakat.

Namun, Politainment juga memiliki masalahnya sendiri, yang cukup serius. Dikutip dari Remotivi (Pusat kajian media dan informasi) Logika Politaiment mereduksi segala hal yang penting dalam politik menjadi citra dan tontonan.

Politik bukan lagi masalah program dan data, bukan lagi masalah kredibilitas dan kapabilitas.

Dalam Politainment kita tidak lagi memiliki distingsi informasi publik, maupun privat mengenai seorang politisi. Semuanya lebur demi menciptakan citra sang Politisi.

Seseorang bisa menjadi tegas, atau tidak tahu sopan santun, gagah ataupun konyol tergantung strategi dan performa komunikasinya di media.

Pada akhirnya produk media yang seperti itu adalah citra, bukan kejujuran. Dan melalui citra – citra media inilah kita terlibat dalam proses politik.

Kita merasa senang, sedih, terharu, dan tertawa oleh aktor-aktor politik yang kita saksikan. Kita memilih pemimpin dan membuat gerakan berdasarkan citra – citra tersebut.

Aspek hiburan dalam Politainment pun membuat kita tak lagi berpolitik dengan rasional. Sebagaimana sinetron sikap politik kita ditentukan pada empati tokoh protagonis dan kebencian pada tokoh antagonis.

Politainment membiasakan kita menilai tokoh atau program berdasarkan pada citra kerakyatan atau kesalehan. Pada akhirnya kita memilih politisi seperti memilih grup band atau aktor kesayangan.

Kita mendukung mereka setengah mati dan membela mereka dari segala caci maki. Pujian dianggap sebagai pemujaan, sedangkan kritik dilihat sebagai kebencian.

Dalam Politainment kita bukan warga negara, kita hanya penonton sandiwara.

banner