Dilema Perempuan Dalam Menghadapi Covid-19

  • Whatsapp

Oleh: Fatma Lestari
Anggota Komisioner KPU Kabupaten Bojonegoro

Muat Lebih

Isu mengenai kiprah perempuan pada sektor publik nampaknya tidak akan pernah sepi dari perbincangan. Permasalahan-permasalahan perempuan dalam lintasan sejarah yang mana terdapat permasalahan sosial masih belum berimbang dalam memandang kaum perempuan sebagai kelompok minoritas masih sangat kuat.

Dalam masyarakat modern dan demokratis, masih banyak dijumpai pandangan yang menganggap bahwa perempuan merupakan klaster ke dua dan pelengkap sehingga kiprahnya di sektor publik layak dipertanyakan.

Status Perempuan dalam sektor domestik (rumah) dan sektor publik (pekerjaan) melahirkan peran ganda yang harus dipikulnya, hal ini jelas akan menimbulkan dampak positif dan sekaligus negatif dalam kehidupan perempuan itu sendiri. Salah satu dampak positif dan keuntungan utama itu tentu saja dari segi keuangan/ekonomi. Di samping memberikan keuntungan secara ekonomi dalam keluarga, peran ganda juga dapat memberikan kontribusi pada kaum perempuan karena dalam keluarga hubungan kesetaraan antara suami dan isteri dapat terjadi, dengan demikian harga diri sebagai perempuan semakin di akui.

Sebaliknya, pada sisi negatif yang mungkin dialami oleh perempuan berperan ganda adalah adanya tuntutan waktu dan tenaga ekstra, konflik antara peran pekerjaan dan peran keluarga, adanya persaingan antara suami dan isteri, dan jika pada keluarga itu memiliki anak-anak, maka perhatian terhadap anak menjadi lebih berkurang.

Gerakan perempuan yang mengusung wacana pemberdayaan perempuan sejauh ini relatif telah mampu mendorong berlangsungnya shifting paradigm masyarakat terhadap perempuan, perempuan yang dulu biasanya hanya dipandang sebagai pelengkap penderita kini mulai banyak mengambil peran, secara kuantitas maupun kualitas dalam proses-proses politik di tingkat kebijakan dan keputusan strategis pengembangan sosial-ekonomi masyarakat.

Secara kuantitas hal ini dapat kita lihat jumlah dalam pemenuhan kuota 30% pada sektor publik telah lebih jauh terpenuhi. Dimana pos-pos seperti Menteri, DPR, GUBERNUR, BUPATI dan bahkan Kepala Desa sudah dapat dikuasai oleh kaum perempuan. Sedangkan secara kualitas saat ini perempuan sudah mulai menyadari tentang pentingnya pendidikan bagi dirinya, menurut data world bank pada tahun 2018 perempuan yang telah menyelesaikan pendidikan menengah sebesar 37 % hal ini menunjukan betapa begitu besarnya partisipasi perempuan terhadap pendidikan.

Dalam konteks dinamika peranan perempuan tersebut diatas saat ini peranan perempuan tengah menghadapi ujian dan tantangan yang cukup berat . Sejak adanya wabah di China pada Desember 2019 lalu hingga sekarang, virus corona telah menginfeksi lebih dari 110.000 orang, dengan pasien meninggal mencapai lebih dari 3.600 orang di lebih 80 negara di seluruh penjuru dunia. Berbagai Aksi-aksi dalam pencegahan dan pengobatan penyakit Covid-19, telah banyak dilakukan diseluruh dunia termasuk di Negara kita sendiri Indonesia.

Dunia saat ini sedang menghadapi krisis dari sebuah musibah besar dari adanya virus corona ini. Mengutip kata Maria Holtsberg, penasihat risiko bidang kemanusiaan dan bencana di UN Women Asia dan Pacific. Yang mengatakan bahwa “Krisis selalu memperburuk ketimpangan Gender,”. dari adanya krisis tersebut perempuan secara otomatis terkena dampak yang cukup signifikan, seperti yang terjadi dinegara china dimana banyak perempuan sebagai buruh migran tidak memiliki kontrak kerja yang jelas, menyebabkan mereka tidak menerima penghasilan apa pun – karena mereka dibayar jika mereka bekerja ditambah dengan tidak adanya jaminan sosial, mereka menghadapi dilema antara kembali bekerja atau mereka mungkin terpaksa tinggal di rumah dan hidup dari sedikit tabungan yang mereka miliki.

Kondisi ini menempatkan mereka dalam situasi yang sangat sulit. Apalagi yang terjadi dinegara Indonesia ribuan karyawan telah mengalami pemutusan Hubungan kerja dari perusahaan yang mayoritas mengunakan tenaga perempuan dan berpotensi menimbulkan penganguran. Belum lagi dampak dari penerapan social distancing dan psychical distancing yang memaksa semuanya harus bekerja dirumah (work from home) hal ini tentunya semakin membuat posisi perempuan makin terjepit.

Artinya peran ganda perempuan yang harus dikerjakan akan semakin berat karena disisi lain harus bekerja disisi lain juga harus mengurus pekerjaan rumah tangga dan memperhatikan anak anak, belum lagi munculnya berbagai kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang muncul, Sekjen PBB Antonio Guterres menyatakan bahwa meningkatnya tekanan sosial dan ekonomi akibat pandemi virus corona telah menyebabkan meningkatnya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada wanita dan anak-anak perempuan.

Jelaslah bahwa secara keseluruhan, virus corona memiliki dampak besar pada kaum perempuan.

Oleh karena itu maka Perempuan memainkan peran yang sangat diperlukan dalam melawan pandemic corona ini, hal ini bisa diwujudkan melalui perempuan sebagai pekerja perawat kesehatan, sebagai ilmuwan dan peneliti, sebagai penggerak sosial, sebagai pembangun dan penghubung perdamaian di masyarakat, dan sebagai pengasuh.” Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 70 persen pekerja di sektor kesehatan dan sosial berasal dari kaum perempuan.

Hal tersebut ditunjukan oleh Empat pemimpin negara perempuan yang berhasil menekan penyebaran virus covid 19 mereka dinilai lebih unggul dalam mengatasi penyebaran Covid-19 di negaranya. Mereka adalah Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, dan Kanselir Jerman Angela Merkel. hal ini semakin memperkuat bukti bahwa sudah saatnya saat ini penting untuk memastikan bahwa suara perempuan didengar dan diakui.Perempuan Indonesia harus bangkit ditengah krisis Pandemi ini pantang menyerah teruslah berjuang dan jadilah perempuan yang tegar dan mampu menghadapi segala bentuk perubahan tanpa melupakan kodrat sebagi perempuan sejati. seperti yang dulu pernah dilakukan oleh sosok pejuang sekaligus revolusioner Ibu Kita Kartini.

Selamat Hari Kartini semoga semangat perjuangan kartini selalu menginspirasi kita menjadi perempuan tangguh dan cerdas, bertanggung jawab serta memiliki dedikasi yang tinggi untuk kemajuan demokrasi yang bermartabat.

Pos terkait