Di Desa Ini Banyak Petani Beralih Tanam Bawang Merah

oleh

Reporter Eko Purnomo

Lintasbojonegoro.com – Ternyata petani bojonegoro kawasan selatan banyak beralih dari menanam padi ke bawang merah. Setidaknya penulis mencatat sekitar 70% petani di desa tersebut.

Memang peralihan tersebut dikarenakan ada beberapa faktor penyebabnya, yakni, tadah hujan, untuk kawasan dusun Sugihan Desa Kedungsumber Kecamatan Temayang.

banner

Sedangkan yang ada artesisnya (sumberan dari pegunungan/dataran tinggi yakni untuk kecamatan gondang, diantaranya desa Pajeng, sambong, krondonan, pragelan, jari, gondang dan, senganten sebagian. Untuk kecamatan sekar diantaranya desa sekar, bobol,miyono, bareng, klino, deling.

Menurut kepala desa Kedungsumber, Ir. Sukardi, bawang merah sebagai alternatif untuk tanah tadah hujan, karena semusim itu saja bisa menghasilkan dalam hitungan bisnis 5 x lipat, sak,apes-apese kembali modal plus ada kelebihan sekitar 70, dadine ora ndjangur. Itu bila terkendala hama. Kalau turun bisa ditangguhkan penjualannya cuma tambah modal untuk bayar tenaga merawat yakni menjemur dan menutupi plastik rapet diatas anjang anjang jikalau diluar rumah. Kalau didalam rumah dibuatkan anjang anjang.

Lebih lanjut, kades bertitel Insinyur pertanian yang mahir juga bidang ekonomi dan bisnis ini, pada awalnya tahun 2013, berspekulasi agar bila berhasil bisa ditiru warganya dan jika tak berhasil juga dirasakan sendiri jika rugi, maka seperti lagunya pak haji rhoma irama, “coba mencoba lagii ooh ho ho, kau mencoba” alhamdulillah, gak nyana nyana alias diluar dugaan hasilnya.

” Dengan begitu akhirnya banyak yang anut. Maaf mas kalau jagung itu tegal alas LMDH,” Kata Kades.

Intinya begini, kalau menanam bawang bila benar – benar berani ya tidak, ada kapok. Yang kapok itu menanam lombok, jika panen melimpah harga turun lha ape diplayokno nok endi, mau dijemur kering , bila kering jualnya kemana. Akhirnya mbah mbah biyen memberinya istilah “kapok lombok”.

Kepiawaian kades Kedungsumber memang sudah teruji, seorang mantan,wartawan,era sembilan puluhan ini, memang bidang pertanian sangat piawai banget, karena bekal disiplin ilmu secara akademis beliau termasuk pakarnya. Juga ladang bisnis rumah kawak tanpa selundupan kayu illegal, merupakan dongkrak suksesnya, ibarat penghasilan yang didapatnya sebagai kepala desa, kemungkinan hanya merupakan’ceperan/sampingan’ saja. Karena amanah beliau mau yang mayoritas menghaturkan untuk menata dan memimpin mereka (warga).

“Ojo ngono, he he, kami memang demi amanah dan dirasa oleh warga punya,arti dan manfaat itulah yang mendorong kami mau. Betuuuul mas brow, pekerjaan bisa ditiru tapi rejeki ada yang mengatur”, ulasannya yang selalu dengan bijak.(Ek/Red).

banner