Cerita Tuyul Tertangkap

oleh

Oleh Eko Purnomo

Lintasbojonegoro.com – ADA ada saja, upaya manusia ingin kaya harta, halal haram beda tifis-tifis doang, kalau dalam buku moslem ada judulnya, Benang Tifis antara halal dan haram, buku yang,disusun oleh Imam Al- Ghozali. Maaf bukan Al-Ghozali mantri ternak Purwosari. Kalau pak kyai Rhoma Irama, memberikan judul : 1001macam cara
orang cari makan, dari menjual koran sampai menjual kehormatan.

Itulah dunia , penuh misteri dapatnya rejeki, tanpa terpikirkan bahwa kehidupan ini, segalanya serba semu Fatamorgana,segala nya serba fana pasti binasa. Tapi anehnya, kog sampai bersekutu dengan setan, terutama bekerja sama dengan ‘Thuyul’
Berikut kisah Thuyul, di desa @ (maaf nama desa saya rahasiakan), saat itu.
Menurut yang cerita, Bu Jm, (69), ketika suami pertama Pct masih hidup, pernah bercerita tentang kejadiaan yang dialaminya. Yakni ketika patroli jaga kampung, maaf pct, terkenal punya indera ke 6, demi memberikan rasa nyaman dan tidak menimbulkan fitnah, ketika saat patroli bersama rekan rekannya, Pct mendengar ada yang sambat “athoooh……athuuoooh….athoook, tolongi pak leeeek. Aku kecanthol carang”.
Pct menyarankan, awakmu ndang terus, aku tak nginceng .greng/rumpun bambu, bek menawa ada pring pethuk. (Sejenis pethel ketemu pethel),
Dirasa aman, baru Pct dialog sama Thuyul.,”pak leeek, tulungi pak leek, gobrah kabeh ndas ku, kilo duwek ku pek ndah” , kata Thuyul.

banner

“Gampang kuwi, aku pengen ngerti kamu,anaknya siapa ?, cuma pingin tahu”, tanya Pct.

“Gak berani pak lek, ntar dimarahi pak e”, jawab Thuyul.

“Yo wis kalau gitu, ntar ada,adzan Subuh terbakar kamu, kalau tidak ngaku”, gertak Pct.

“Tapi jangan diberitahukan pada orang lain yaa”, pinta Thuyul.

“Yo, kuatir, tapi kamu jangan obok obok rumahnya keluargaku, awas janji obok obok, saya bakar kamu”. Gertak pct.

“Familymu saya ingat nya, siapa saja, “, pinta Thuyul.

” A.b.c.d…….z”, jawab Pct.

“Kog hampir semua, aku terus ke mana cari duwit, pak e belum pernah mengajak /menunjukan rumah langganan untuk,saya bisa curi uangnya”.jawab thuyul dengan bimbang.

“Mau atau tidak, ini segera saatnya sebentar lagi,Subuh lho..”, gertak,Pct.

“Yooo pak leek”, jawab Thuyul.

Setelah,sekian lama, pada suatu malam , saat Pct buang hajat, terdengar Thuyul itu juga sambat di bawah rumpun bambu belakang rumahe Pct.
“Bolak balik kamu lagi,”, wis pak lek, aku apes/sial, sesuk pe minggat mulih nok gresik ae. Lha opo sengsara disini, saya susah curi uang, anak anak e pak ku sing menungso penak penak an kopik karo mendem. Matur nuwun pak leek, aku ikut pak lek yoo,” kata Thuyul.

“Muuuoh, aku sak anak bojoku kog ape mbok pakani lan mbok ombeni banyu. Geni neraka, ingat manusia sing taqwa, iling, “he,orang yang beriman, jaga,dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka. Naaudzubillahi minn dzaliq”, jawab Pct.

“Gak liek, gak liek, panas panas panaaas,”, jawaabe thuyul terus mlayu ngadohi,Pct.(Ek/Red).

Foto : Ilustrasi (Pandjiindonesia.com)

banner