Bahaya, Rasio NPL BPR Bojonegoro Meroket Hingga 27%

oleh

Reporter : Piping

Lintasbojonegoro.com – Kualitas kinerja badan usaha milik daerah (BUMD) PD. Bank Perkreditan rakyat (BPR) bank daerah Bojonegoro semakin mengkhawatirkan. Pada bulan Agustus 2018 ini, rasio non performing loan (NPL) atau biasa disebut kredit bermasalah mencapai 27%.

NPL atau Non Performing Loan merupakan salah satu indikator kesehatan kualitas aset bank. Indikator tersebut merupakan rasio keuangan pokok yang dapat memberikan informasi penilaian atas kondisi permodalan, rentabilitas, risiko kredit, risiko pasar dan likuidasi.

banner

Angka NPL yang mencapai 27% tersebut jauh melampaui ambang batas maksimal NPL yang ditetapkan oleh Otoritas jasa keuangan (OJK). Bahwa rasio NPL adalah maksimal sebesar 5% untuk mengukur tingkat kesehatan suatu bank.

” NPL tinggi, sekarang sekitar 27 Persen, ” Kata Komisaris Independen PD. BPR Bank Daerah Bojonegoro Gatot Sugiono.

Tingginya angka NPL ini menurut Gatot disebabkan banyak hal, terutama dari analisis kredit yang tidak tepat atau cenderung serampangan, dimana hal itu ditentukan oleh kualitas SDM BPR Bojonegoro. Hingga kondisi perekonomian yang menyebabkan usaha dari para nasabah mengalami kerugian.

Bahayanya, angka NPL yang terus naik setiap bulan tersebut dapat mengikis modal yang dimiliki oleh BPR Bojonegoro. Dimana modal tersebut adalah dari suntikan APBD Bojonegoro.

Sekitar bulan Juni lalu angka NPL masih sekitar 20%, dan memasuki Agustus ini sudah berada di kisaran 25-27%.

Menurut Gatot, BPR Bojonegoro saat ini memiliki modal sekitar Rp. 400 milyar. Jumlah modal yang disalurkan untuk kredit hanya sekitar Rp. 215 milyar dan 27 persen diantaranya bermasalah. Sedangkan sisanya sekitar Rp. 185 milyar modal ditempatkan di bank lain.

Angka tersebut juga membuktikan rendahnya penyaluran kredit oleh BPR Bojonegoro. Akhirnya modal ratusan milyar hanya ditempatkan di Bank lain, tidak tersalurkan ke masyarakat, untuk menopang perekonomian di Bojonegoro.(Pin/Red).

banner