Analisis Gender Sebagai Alat Transformasi Sosial

oleh

Gender adalah pembedaan yang dikonstruksikan masyarakat yang menentukan dan mengatur peranan perempuan dan laki-laki yang mengakar pada masyarakat akibat budaya Patriarkhi. Budaya Patriarkhi ini tidak berdampak pada perempuan saja, tetapi kepada laki-laki pun sama, memiliki dampak yang tidak baik.

Contoh dampak patriarkhi pada perempuan adalah perempuan selalu menjadi subordinasi dari laki-laki, dan perempuan selalu menjadi objek dari laki-laki, perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah dalam segala hal, hal ini sangat menyiksa perempuan.

Contoh dampak budaya patriarkhi terhadap laki-laki adalah, laki-laki selalu dituntut untuk menjadi makhluk nomor satu, dituntut untuk gagah perkasa, menjadi pemimpin, tak boleh menangis, dan dituntut menjadi seseorang yang harus serba bisa dan superior, padahal ini semua menyiksa laki-laki yang apabila laki-laki kemampuannya kurang, maka mereka akan di diskriminasi karena tidak bisa seperti pandangan budaya Patriarkhi tersebut.

banner

Maka dari itu munculah gerakan-gerakan yang menentang akan peran yang dikonstruksikan oleh masyarakat tersebut, seperti kaum feminis yang memiliki pemahaman kesetaraan gender. Kesetaraan gender menurut mereka yaitu bagaimana mewujudkan kesetaraan gender melalui proses penyadaran bagi yang tertindas, pemberdayaan kaum tertindas, dan sebagainya.

Pemahaman kesetaraan gender seperti ini dapat menimbulkan semangat kebencian kaum perempuan terhadap laki-laki, mereka menjadi gelap mata dan membabi buta dalam upaya mewujudkan kesetaraan yang mereka maksud.

Untuk mencegah paham kebencian yang terus menyebar di kalangan perempuan tersebut, diperlukan pemahaman yang lebih tepat tentang kesetaraan gender, yaitu keadilan gender atau kesesuaian gender.

Menurut pandangan Islam sama sekali tidak perlu diperdebatkan apakah laki-laki dan perempuan itu sebanding atau tidak, menurut Islam, perempuan dan laki-laki adalah sama-sama manusia, yg membedakan hanyalah ketaqwaannya.

Maka kita harus memahami hak dan kewajiban kita masing-masing sesuai fungsinya. Kita harus mulai membangun kesadaran bahwa kita sadar akan potensi atau kemampuan kita, bukan karena perbedaan kita sebagai laki-laki atau perempuan. Kita harus dobrak budaya patriarkhi yang mengakar di masyarakat, bahkan dimulai dari keluarga kita sendiri.

Perempuan dan laki-laki harus saling mensupport, bergandengan tangan, karena memiliki akses yang sama dalam ranah publik dan domestik. Transformasi sosial akan terjadi jika perempuan dan laki-laki telah menyadari akan hal ini, dan bekerja sama untuk membenahi semuanya.

Oleh : Siti Nurjanah dari HMI Cabang Garut.
Peserta LKSG Tingkat Nasional HmI Cabang Bandung tahun 2018

banner