Agus Maimun Paparkan Peran Masyarakat Dalam Pembangunan Daerah (TB-HIV Care)

oleh

Reporter Dian

Lintasbojonegoro.com — Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Agus Maimun, SE, M.HP berkesempatan melakukan paparan tentang peran masyarakat dalam pembangunan daerah di acara ” Cadre Coordination With DHO For Contact Investigation Data Collection And Survey
TB-HIV Care ‘Aisyiyah Kabupaten Bojonegoro ” Jumat (28/12/2018).

Anggota komisi B DPRD Provinsi Jawa timur itu mengatakan, para kader Aisyiyah Kabupaten Bojonegoro harus mampu berperan dalam pembangunan sosial kemasyarakatan.

banner

Selain itu juga sebagai upaya perjuangan emansipasi terhadap perempuan dalam perannya di kehidupan masyarakat.

” Peran kader TB dalam pemberdayaan sebagai wahana politik dan sosial building untuk mewujudkan partisipasi dan emansipasi kader TB perempuan dalam rangka momentum politik 2019,” Ungkap Agus Maimun.

Dalam kesempatan itu juga disampaikan, laporan WHO 2015 yang dirilis pada tahun 2016, diperkirakan terdapat 10,4 juta kasus baru TB pada tahun 2015, dimana 1,2 juta orang (11%) diantaranya adalah pasien dengan HIV positif, 3,5 juta adalah perempuan (34%), dan 1 juta (10%) nya adalah anak-anak. Pada tahun 2015 Tuberkulosis (TB) merupakan 10 Penyebab kematian terbesar di dunia, menurut data yang dikeluarkan oleh WHO ada kematian yang disebabkan oleh TB sebanyak 1,4 juta dan 0,4 juta diantaranya adalah pasien dengan HIV positive. Pada 2015, diperkirakan ada 480 000 kasus baru multidrug-resistant TB (TB-MDR).

Perwakilan dari PD Aisyiyah Bojonegoro Dra. Siti Nurhayati menyampaikan strategi umum program pengendalian TB 2011-2014 adalah ekspansi. Fase ekspansi pada periode 2011-2014 ini bertujuan untuk konsolidasi program dana akselerasi implementasi inisiatif-inisiatif baru sesuai dengan strategi Stop TB terbaru, yaitu Menuju Akses Universal: pelayanan DOTS harus tersedia untuk seluruh pasien TB, tanpa memandang latarbelakang sosial ekonomi, karakteristik demografi, wilayah geografi dan kondisi klinis. Pelayanan DOTS yang bermutu tinggi bagi kelompok – kelompok yang rentan (misalnya anak, daerah kumuh perkotaan, wanita, masyarakat miskin dan tidak tercakup asuransi) harus mendapat prioritas tinggi.

” Pemerintah secara konsisten telah menetapkan dan menyusun kebijakan program secara nasional, dengan tidak hanya menggunakan sumber dana dari anggaran pemerintah tetapi juga yang berasal dari sumber lain termasuk dari dana internasional dalam bentuk hibah.”Ungkapnya.

Sejak tahun 2003, Indonesia telah menerima dana bantuan dari Global Fund untuk pengendalian HIV/AIDS, Tuberkulosis dan Malaria (GFATM). Dana GFATM memberikan dukungan sangat bermakna terhadap program nasional pengendalian ketiga penyakit ini.

Pada tahun 2014, Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah bersama Kementerian Kesehatan akan menjadi penerima dana utama dari Global Fund untuk menjalankan program TB di Ronde 10. Keterlibatannya dalam pengendalian program TB secara nasional mengalami banyak tantangan, yaitu masih rendahnya kemampuan kelompok masyarakat peduli TB untuk mengembangkan diri, angka kesembuhan masih jauh dari yang diharapkan, belum optimalnya keterlibatan PMO secara utuh dan perlunya peningkatan dukungan manajemen dalam mengelola program.

” Tantangan baru yang akan dihadapi oleh PP ‘Aisyiyah adalah terkait pengembangan kegiatan Advokasi untuk dukungan program TB, TB-MDR, TB-HIV dan alih kelola program kepada masyarakat.”Pungkasnya.

banner